28 September 2010

What I've seen in hospital

Warnet yang sering saya kunjungi terletak di Jalan Sudirman, Bogor. Tempat shalat terdekat dari sana adalah mushalla yang terdapat di dalam Rumah Sakit Salak di seberang jalan. Jadi saya cukup sering masuk dan melihat berbagai macam hal yang terjadi di sana.

Yang tentunya jamak terlihat di sana adalah pemandangan orang-orang yang terbaring sekarat, yang tubuhnya dimasuki banyak selang, dan yang sudah tak bernyawa lagi. Itu semua membuat saya teringat bahwa kelak saya juga akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Dalam waktu yang tak lama lagi. What a short life, ain't it?

Kemudian melewati deretan para pasien yang menunggu pengobatan dengan berbagai macam penyakit yang mereka derita. Tiba-tiba saja saya menjadi merasa ganteng dan gagah. Mata saya masih berbentuk mata, hidung saya masih berbentuk hidung, mulut saya masih berbentuk mulut, dan saya masih bisa berjalan tegak dengan kedua kaki. Kalo kamu terkena Michael Jackson Syndrome (I made that syndrome's name up), minder dengan penampilan tubuhmu sendiri, kamu harus pergi ke sini deh kayaknya.

Yang menarik di dalam rumah sakit ini adalah terdapat ironi dalam titik yang paling ekstrem. Ada orang yang amat sangat bersedih ditinggalkan orang yang dikasihinya, namun tak jauh dari situ terdapat orang yang amat sangat gembira melihat kelahiran anaknya. Kesamaan yang menghubungkan kedua ironi tersebut adalah, bahwa manusia yang mereka tangisi / gembirakan tersebut baru saja berpindah dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan yang lain. Dan, sampai pada suatu titik tertentu, manusia yang baru saja berpindah alam tersebut butuh diurusi keperluannya oleh orang-orang terdekatnya.

Mungkin masih banyak hal yang bisa saya lihat di sana, seperti misalnya, bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, atau mungkin perjuangan orang yang melewati sakaratul maut (yang katanya kedua-duanya itu sakit banget, gak tau juga sih.. Belum pernah mengalaminya).

Banyak hal yang dapat dipetik dari memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah sakit. Saya sarankan anda sering-seringlah berkunjung ke rumah sakit (selagi sehat, tentunya). Karena jika kehidupan ini adalah madrasah, maka rumah sakit adalah, well.. katakanlah, pesantren kilat.

23 September 2010

Tugas 1

Mengapa kita harus belajar bisnis?

Bisnis sangatlah penting. Peran dari bisnis adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang --menciptakan kekayaan dan kesejahteraan, kemakmuran, pekerjaan, dan pilihan-pilihan.

Ada pendapat kuat bahwa di masa depan semua orang akan memerlukan pendidikan bisnis. Apapun yang anda lakukan di kehidupan profesional anda, ada peluang hal itu akan melibatkan "bisnis". Ilmuwan, insinyur, bahkan seniman, tak pelak lagi akan harus mengerti paling tidak dasar-dasar dari bisnis, dan mungkin lebih banyak lagi.

Ahli manajemen masa kini, orang yang memperkirakan cara kita melakukan bisnis pada awal abad ke-21, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di masa depan akan terdiri dari kelompok-kelompok spesialis yang bekerjasama pada proyek tertentu dan kemudian membubarkan diri. Untuk proyek selanjutnya komposisi dari kelompok akan hampir pasti berbeda. Salah satu konsekuensi dari hal ini adalah akan makin banyak orang yang akan menjadi seperti yang kita sebut sekarang ini "independen", dan akan harus mengerti lebih banyak tentang peluang-peluang dan batasan-batasan dari bisnis.

Dalam kata lain, kombinasi dari kualifikasi seorang spesialis dan pengetahuan bisnis akan menjadi vital.

Tapi ini tidak hanya sekedar "pengetahuan" tentang bisnis. Sebelum memulai pendidikan bisnis anda harus bertanya pada diri anda sendiri sebuah pertanyaan dasar, "apa yang seharusnya pendidikan bisnis berikan pada saya?"

Kebanyakan materi pelajaran terdiri dari teori dan praktek. Pertanyaan yang penting adalah, di mana salah satunya berakhir dan yang lainnya bermula? Di banyak kasus sudah jelas tidak ada jawaban yang pasti atas pertanyaan ini.

Jika anda menginginkan karir sebagai seorang insinyur atau seorang ilmuwan, sangat berguna jika mengerti cara berjalannya bisnis.

Anda akan mendapatkan pemahaman tentang keuangan, strategi, operasional, konteks kelembagaan yang mana keahlian teknik dan banyak sains mengambil tempat.

Itu akan memperluas perspektif anda dan memberikan anda keuntungan ketika pindah ke posisi manajerial.

Belajar bisnis menawarkan cakupan terluas dan peluang-peluang terhebat serta fleksibilitas dari segala wilayah program yang anda pilih. Dari pemasaran ke akuntansi, dari sumber daya manusia ke penjualan, dari manajemen ke teknologi informasi, sebuah tingkatan dalam bisnis adalah pondasi yang paling baik yang dapat anda dapatkan. Menarik, dinamis, dan akan mengajarkan anda semua yang anda perlu tahu --apapun jalur karir yang anda pilih.

Untuk mendapatkan pondasi yang kuat atas keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dari lingkungan bisnis masa kini yang sangat cepat berubah.

Belajar dasar-dasar dari administrasi bisnis, ekonomi, yang sama baiknya seperti keterampilan analisis yang penting pada pekerjaan profesional di berbagai macam organisasi.

Mengejar sebuah program belajar untuk memperluas persiapan akademis anda dalam mendukung karir anda dan tujuan-tujuan profesional.

Meraih tingkatan berharga yang mempersiapkan anda untuk karir yang memuaskan di dunia bisnis.
(http://mansfield.edu/business-and-economics/what-can-i-study/)


Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi iklim bisnis di Indonesia? Jelaskan!

Iklim bisnis dipengaruhi banyak faktor. Berdasarkan survei, faktor utama yang mempengaruhi iklim bisnis adalah tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja, perekonomian daerah, infrastruktur fisik, kondisi sosial politik, dan institusi (Kuncoro, 2006). Faktor institusi yang dimaksud, terutama ialah institusi birokrasi (pemerintah). 

Untuk kasus Indonesia, birokrasi banyak disorot karena justru melahirkan iklim bisnis yang tidak kondusif. Studi Bank Dunia (2004) menunjukkan, alasan utama investor khawatir berbisnis di Indonesia adalah ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan, korupsi (oleh pemerintah daerah maupun pusat), perizinan usaha, dan regulasi pasar tenaga kerja (Kuncoro, 2006).

Ketidakstabilan ekonomi makro itu misalnya diindikasikan dengan berbagai kebijakan makro yang justru melumpuhkan dunia bisnis, besar maupun kecil. Seperti kenaikan harga BBM yang rata-rata lebih dari 120 %, kenaikan suku bunga, kenaikan upah minimum, dan segera menyusul kenaikan tarif dasar listrik dan gas.

Ketidakpastian kebijakan contohnya adalah pemberlakuan PP No. 63/2003 yang diberlakukan surut sejak 1995 di Batam. PP mengenai pajak penjualan barang mewah (PPnBM) dan pajak pertambahan nilai (PPN) tersebut mengakibatkan 25 perusahaan penanaman modal asing (PMA) dikabarkan akan hengkang dari Batam. 

Mengenai pungli, reputasi birokrasi Indonesia tak usah diragukan lagi. Pungli telah ada sejak mencari bahan baku, memproses input menjadi output, hingga tahapan ekspor. Rata-rata persentase pungli terhadap biaya ekspor setahun adalah 7,5 % yang diperkirakan sebesar Rp 3 triliun atau sekitar 153 juta dolar AS! (Kuncoro, 2006).

Perizinan usaha juga sering dikeluhkan. Kegiatan bisnis sering tertunda karena untuk melakukan bisnis di Indonesia butuh waktu 168 hari untuk mengurus perizinan berbelit-belit dengan biaya yang dapat mencapai rata-rata 14,5 % dari rata-rata pendapatan pengusaha.

Inilah gambaran sekilas fakta iklim bisnis, sekaligus fakta iklim bisnis yang tidak kondusif dalam kasus perekonomian Indonesia. Para birokrat dan pejabat Indonesia baik di pusat maupun daerah lebih bangga berperilaku sebagai predator daripada menjadi fasilitator bagi penciptaan iklim bisnis yang sehat dan kondusif.

Iklim bisnis Indonesia yang tidak kondusif tersebut, tak dapat dilepaskan dari sistem kapitalisme yang ada. Karakter-karakter dasar sistem kapitalisme yang destruktif telah menjadi faktor determinan (menentukan) terhadap penciptaan iklim bisnis.

Sebagai contoh, mengapa banyak pungli dan korupsi? Ke mana larinya komitmen moral dan tanggung jawab sosial birokrat? Jawabannya dapat dikembalikan pada salah satu karakter dasar kapitalisme, yaitu menomorsatukan self-interest (kepentingan pribadi) (Chapra, 2000). Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations (1776) hal. 27 menegaskan bahwa self-interest merupakan kekuatan pembimbing bagi individu untuk melakukan aktivitas ekonomi. Kata Adam Smith,"Bukan karena kemurahan hati tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti kita berharap dapat makan malam, melainkan karena mereka mengejar kepentingan pribadi masing-masing." (Jalaluddin, 1991). 

Ketidakjelasan kebijakan seringkali membuat akses terhadap informasi dan pasar, permodalan, dan teknologi hanya dinikmati para pengusaha besar yang berkolusi dengan birokrat yang korup. Pengusaha kecil harus rela mati akibat kompetisi tidak fair ini. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya juga dapat dikembalikan pada salah satu karakter dasar kapitalisme, yaitu penerapan prinsip Darwinisme Sosial yang kejam ala Thomas R. Malthus (w. 1834). Esensi prinsip itu, yang berhak bertahan hidup hanyalah yang terkuat (survival for the fittest) (Chapra, 2000). 

Walhasil, iklim bisnis yang tidak kondusif itu sebenarnya hanya gejala (symptom) luar dari sebuah masalah inheren yang lebih mendasar, yakni eksistensi sistem ekonomi kapitalistik yang pada dasarnya destruktif. Maka solusinya tidak cukup kita hanya melakukan reformasi pelayanan publik (seperti perizinan) atau perbaikan moral birokrat. Sistem kapitalismenya sendiri juga harus dibongkar total dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang konstruktif dan rahmatan lil ‘alamin.

(Diambil dari "MENCIPTAKAN IKLIM BISNIS YANG SEHAT DAN KONDUSIF" oleh KH. M. Shiddiq al-Jawi.)