Dalam ekonomi, profit maximization atau profit maksimum adalah proses yang dilakukan perusahaan untuk menentukan harga dan level output yang memberikan profit yang paling besar. Terdapat beberapa pendekatan untuk masalah ini. Metode total revenue - total cost berdasarkan pada fakta bahwa profit sama dengan pendapatan dikurangi beban, dan metode marginal revenue-marginal cost didasarkan pada fakta bahwa total profit dalam sebuah pasar persaingan sempurna adalah poin maksimum di mana marginal revenue sama dengan marginal cost.
Setiap biaya yang terjadi pada perusahaan dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok: fixed cost dan variable cost. Fixed cost muncul dalam bisnis pada setiap level dari output, termasuk saat output 0. Ini termasuk pemeliharaan peralatan, sewa, gaji, dan pemeliharaan umum. Variable cost berubah seiring dengan level dari output, bertambah dengan semakin banyaknya produk yang dihasilkan. Bahan baku yang dikonsumsi selama produksi biasanya berdampak paling besar pada kategori ini. Fixed cost dan variable cost, digabungkan, sama dengan total cost.
Pendapatan adalah jumlah uang yang perusahaan terima dari aktivitas bisnis normalnya, biasanya dari penjualan barang dan jasa (berlawanan dengan uang dari penjualan saham seperti pembagian modal atau penerbitan surat utang).
Marginal cost dan marginal revenue, tergantung pada apakah dengan pendekatan kalkulus atau tidak, didefinisikan dengan perubahan pada beban atau pendapatan ketika setiap tambahan unit diproduksi, atau turunan dari beban atau pendapatan yang bergantung pada jumlah output. Ini dapat pula didefinisikan sebagai tambahan pada total cost atau revenue ketika output bertambah sebanyak satu unit.
Untuk setiap unit yang terjual, marginal profit (Mπ) sama dengan marginal revenue (MR) dikurang marginal cost (MC). Sehingga, jika marginal revenue lebih besar dari marginal cost, marginal profit hasilnya akan positif, dan jika marginal revnue lebih kurang dari marginal cost, marginal profit hasilnya akan negatif. Ketika marginal revenue sama dengan marginal cost, marginal profit nol. Karena total profit bertambah ketika marginal profit positif dan total profit berkurang ketika marginal profit negatif, profit akan mencapai maksimum ketika marginal profit nol - atau ketika marginal cost sama dengan marginal revenue. Ketika terjadi dua titik di mana hal ini terjadi, profit maksimum akan tercapai di mana produsen telah mengumpulkan profit positif hingga titik perpotongan antara MR dan MC (di mana profit nol didapatkan), tetapi tidak dapat melanjutkan setelahnya, begitu pula sebaliknya, yang akan menampilkan profit minimum.
Titik perpotongan antara MR dan MC pada diagram di atas adalah di titik A. Jika industrinya adalah persaingan sempurna (seperti diasumsikan dalam diagram), perusahaan menghadapi sebuah kurva permintaan (D) yang identik dengan kurva marginal revenue (MR). Kurva ini akan berbentuk garis horizontal pada suatu titik harga yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran industri. Biaya total rata-rata direpresentasikan oleh kurva ATC. Total profit ekonomis direpresentasikan oleh area PABC.
Jika perusahaan beroperasi pada pasar yang tidak kompetitif, sedikit perubahan harus dilakukan pada diagram. Contohnya, marginal revenue gradiennya harus negatif, karena kurva permintaan pasar secara keseluruhan. Dalam sebuah lingkungan yang tidak kompetitif, solusi untuk profit maksimum akan lebih rumit dengan menggunakan game theory.
Pada beberapa kasus, kondisi permintaan dan biaya perusahaan mengakibatkan marginal profit akan lebih besar dari nol pada semua level produksi. Dalam kasus ini, aturan Mπ = 0 harus dimodifikasi dan perusahaan harus memaksimalkan pendapatan. Dengan kata lain, quantity dan price dari profit maksimum dapat ditentukan dengan mengatur marginal revenue menjadi sama dengan nol.
02 February 2012
26 January 2012
Analisis Jurnal
1.1 Judul
Marginal Utility of Income and value of time in urban transport
Link: http://www.accessecon.com/pubs/EB/2008/Volume4/EB-08D80014A.pdf
1.2 Pengarang
Christelle Viauroux
1.3 Tahun
2008
2. Tema
Efek dari heterogenitas yang tak terlihat pada Marginal Utility (MU) dari pendapatan sebagai faktor penentu dari perjalanan.
3. Latar Belakang Masalah
3.1 Fenomena
Masyarakat perkotaan dalam penggunaan transpotasi mempunyai banyak faktor, yaitu tujuan perjalanan, moda transportasi yang dipilih, jarak tempuh perjalanan, dan biaya perjalanan. Pemilihan faktor tersebut dipengaruhi oleh Marginal Utility dari pendapatan.
3.2 Riset Terdahulu
Frisch (1964), and Clark (1973), untuk pengukuran empiris Maginal Utility dari pendapatan dalam transportasi.
Viauroux (2007), yang menunjukkan penghargaan waktu masing-masing individu dalam lalu lintas berbeda secara signifikan antara puncak dan non-puncak dengan perkiraan penilaian 0,769 selama periode puncak dengan 0,7213 periode non-puncak (dengan t-test statistik sebesar -22,18).
3.3 Motivasi Penelitian
Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menguji kekonstanan dari Marginal Utility dari pendapatan dalam perkiraan dari permintaan pada transportasi perkotaan dengan kemacetan yang endogen.
4. Metodologi
4.1 Data
Data menggunakan survei pada rumah tangga di greater Montpellier area (Selatan Perancis, penduduk: 229.055) merekam aktivitas transportasi dari 6.341 individu dalam periode dua hari. Perjalanan dilihat sebagai berkendara atau berjalan sejauh lebih dari 300 meter antara dua tempat pada jalanan umum. Terfokus kepada perjalanan yang dimaksudkan untuk bekerja, sekolah, berbelanja, dan berrekreasi. Perjalanan pulang ke rumah tidak dihitung.
4.2 Variabel
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah kebijakan pemerintah (seperti kenaikan pajak atau tarif), yang mempengaruhi keputusan perjalanan individu dan keputusan-keputusan ini dalam agregat mengubah variabel-variabel ekonomis seperti kemacetan lalu-lintas, yang kemudian mempengaruhi keputusan individu lagi.
4.3 Model Penelitian
Bentuk fungsi utilitas dari orang yang bepergian:
Oleh Hanemann (1984) di mana s−i angka rata-rata dari perjalanan dengan mobil yang dilakukan oleh individu selain i, ci menunjukkan ukuran dari kenyamanan bepergian dengan mobil.
Individual i menghadapi kendala anggaran
Di mana Pci harga per unit mobil dan bis, Aci menunjukkan biaya tetap yang diasosiasikan pada penggunaan mobil dan bis, pv adalah harga unit yang berhubungan dengan barang komposit, dan wi adalah sumbangan individual. Asumsikan bahwa angka I dari individu cukup besar, kita mendapatkan:
Maksimisasi dari ui di bawah kendala anggaran memberikan alokasi optimal dari perjalanan untuk individu i:
Di mana kita menggunakan notasi
Akhirnya kita dapat menulis fungsi utilitas tak langsung dari individual i sebagai
5. Hasil dan Analisis
Ditunjukkan bahwa keengganan rata-rata pada kemacetan lalu-lintas ( 1/1.1980 = 0.8347) adalah rendah dan tidak berbeda selama slot-slot waktu yang mana perbedaan ini diperhitungkan oleh fungsi Marginal Utility dari pendapatan. Di bawah asumsi bahwa Marginal Utility adalah konstan, hasil perkiraan dari Viauroux (2007) menunjukkan perbedaan signifikan dari rata-rata keengganan pada kemacetan antara periode puncak dan non-puncak. Mengizinkan Marginal Utility dari pendapatan untuk bergantung pada keengganan pada kemacetan berhasil dengan rata-rata keengganan yang konstan. Sebagai akibatnya, perbedaan dalam keengganan antar periode hanya dijelaskan oleh perbedaan dalam penggunaan biaya transportasi. Hasil-hasil lainnya tetap kuat. Semakin tinggi frekuensi bis, semakin sering seorang inddividu bepergian dengan bis dan efeknya lebih kuat secara signifikan selama waktu non-puncak. Karena jarak antara tempat asal dan tujuan bertambah, individu lebih banyak bepergian dengan bis dan lebih sedikit dengan mobil, sementara kedua moda digunakan selama waktu non-puncak. Para mahasiswa dan orang yang belum bekerja bepergian lebih banyak dengan bis sepanjang waktu.
6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Ditunjukkan bahwa pendekatan Bayesian yang digunakan untuk memodelkan endogenitas dari proses kemacetan di wilayah perkotaan kuat pengaruhnya pada relaksasi dari asumsi pada kekonstanan dari Marginal Utility pada pendapatan. Perbedaannya hanya perbedaan keengganan pada kemacetan lalu-lintas yang ditemukan sama selama periode.
Marginal Utility of Income and value of time in urban transport
Link: http://www.accessecon.com/pubs/EB/2008/Volume4/EB-08D80014A.pdf
1.2 Pengarang
Christelle Viauroux
1.3 Tahun
2008
2. Tema
Efek dari heterogenitas yang tak terlihat pada Marginal Utility (MU) dari pendapatan sebagai faktor penentu dari perjalanan.
3. Latar Belakang Masalah
3.1 Fenomena
Masyarakat perkotaan dalam penggunaan transpotasi mempunyai banyak faktor, yaitu tujuan perjalanan, moda transportasi yang dipilih, jarak tempuh perjalanan, dan biaya perjalanan. Pemilihan faktor tersebut dipengaruhi oleh Marginal Utility dari pendapatan.
3.2 Riset Terdahulu
Frisch (1964), and Clark (1973), untuk pengukuran empiris Maginal Utility dari pendapatan dalam transportasi.
Viauroux (2007), yang menunjukkan penghargaan waktu masing-masing individu dalam lalu lintas berbeda secara signifikan antara puncak dan non-puncak dengan perkiraan penilaian 0,769 selama periode puncak dengan 0,7213 periode non-puncak (dengan t-test statistik sebesar -22,18).
3.3 Motivasi Penelitian
Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menguji kekonstanan dari Marginal Utility dari pendapatan dalam perkiraan dari permintaan pada transportasi perkotaan dengan kemacetan yang endogen.
4. Metodologi
4.1 Data
Data menggunakan survei pada rumah tangga di greater Montpellier area (Selatan Perancis, penduduk: 229.055) merekam aktivitas transportasi dari 6.341 individu dalam periode dua hari. Perjalanan dilihat sebagai berkendara atau berjalan sejauh lebih dari 300 meter antara dua tempat pada jalanan umum. Terfokus kepada perjalanan yang dimaksudkan untuk bekerja, sekolah, berbelanja, dan berrekreasi. Perjalanan pulang ke rumah tidak dihitung.
4.2 Variabel
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah kebijakan pemerintah (seperti kenaikan pajak atau tarif), yang mempengaruhi keputusan perjalanan individu dan keputusan-keputusan ini dalam agregat mengubah variabel-variabel ekonomis seperti kemacetan lalu-lintas, yang kemudian mempengaruhi keputusan individu lagi.
4.3 Model Penelitian
Bentuk fungsi utilitas dari orang yang bepergian:
Oleh Hanemann (1984) di mana s−i angka rata-rata dari perjalanan dengan mobil yang dilakukan oleh individu selain i, ci menunjukkan ukuran dari kenyamanan bepergian dengan mobil.
Individual i menghadapi kendala anggaran
Di mana Pci harga per unit mobil dan bis, Aci menunjukkan biaya tetap yang diasosiasikan pada penggunaan mobil dan bis, pv adalah harga unit yang berhubungan dengan barang komposit, dan wi adalah sumbangan individual. Asumsikan bahwa angka I dari individu cukup besar, kita mendapatkan:
Maksimisasi dari ui di bawah kendala anggaran memberikan alokasi optimal dari perjalanan untuk individu i:
Di mana kita menggunakan notasi
Akhirnya kita dapat menulis fungsi utilitas tak langsung dari individual i sebagai
5. Hasil dan Analisis
Ditunjukkan bahwa keengganan rata-rata pada kemacetan lalu-lintas ( 1/1.1980 = 0.8347) adalah rendah dan tidak berbeda selama slot-slot waktu yang mana perbedaan ini diperhitungkan oleh fungsi Marginal Utility dari pendapatan. Di bawah asumsi bahwa Marginal Utility adalah konstan, hasil perkiraan dari Viauroux (2007) menunjukkan perbedaan signifikan dari rata-rata keengganan pada kemacetan antara periode puncak dan non-puncak. Mengizinkan Marginal Utility dari pendapatan untuk bergantung pada keengganan pada kemacetan berhasil dengan rata-rata keengganan yang konstan. Sebagai akibatnya, perbedaan dalam keengganan antar periode hanya dijelaskan oleh perbedaan dalam penggunaan biaya transportasi. Hasil-hasil lainnya tetap kuat. Semakin tinggi frekuensi bis, semakin sering seorang inddividu bepergian dengan bis dan efeknya lebih kuat secara signifikan selama waktu non-puncak. Karena jarak antara tempat asal dan tujuan bertambah, individu lebih banyak bepergian dengan bis dan lebih sedikit dengan mobil, sementara kedua moda digunakan selama waktu non-puncak. Para mahasiswa dan orang yang belum bekerja bepergian lebih banyak dengan bis sepanjang waktu.
6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Ditunjukkan bahwa pendekatan Bayesian yang digunakan untuk memodelkan endogenitas dari proses kemacetan di wilayah perkotaan kuat pengaruhnya pada relaksasi dari asumsi pada kekonstanan dari Marginal Utility pada pendapatan. Perbedaannya hanya perbedaan keengganan pada kemacetan lalu-lintas yang ditemukan sama selama periode.
Utility (Nilai Guna)
Setiap individu ataupun rumah tangga pasti mempunyai perkiraan tentang berapa pendapatannya dalam suatu periode tertentu, misalkan satu tahun. Dan mereka juga pasti mempunyai suatu gambaran tentang barang-barang atau jasa-jasa apa saja yang akan mereka beli. Tugas setiap rumah tangga adalah bagaimana mereka bisa memaksimalkan pendapatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan dan memenuhi semua kebutuhan sehingga bisa mencapai kesejahteraan. Tapi ternyata hampir tidak satupun individu atau rumah tangga yang berhasil dalam tugasnya tersebut. Sampai pada tingkat tertentu, kegagalan tersebut disebabkan oleh adanya keterangan-keterangan yang tidak tepat dan ada juga alasan-alasan lain seperti pembelian-pembelian secara impulsif.
Segala usaha yang dilakukan untuk mencapai kepuasan maksimum dengan pendapatan yang terbatas inilah yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang dan jasa di pasar. Untuk menganalisa pembentukan permintaan konsumen secara lebih akurat, maka akan digunakan beberapa asumsi yang akan menyederhanakan realitas ekonomi. Di sini kita akan mempelajari tentang teori nilai guna (utility).
Secara historis, teori nilai guna (utility) merupakan teori yang terlebih dahulu dikembangkan untuk menerangkan kelakuan individu dalam memilih barang-barang yang akan dibeli dan dikonsumsinya. Dapat dilihat bahwa analisis tersebut telah memberi gambaran yang cukup jelas tentang prinsip-prinsip pemaksimuman kepuasan yang dilakukan oleh orang-orang yang berfikir secara rasional dalam memilih berbagai barang keperluannya. Di sini kita juga akan mempelajari bagaimana suatu barang bisa memmberikan kenikmatan terhadap individu dan bagaimana barang itu akhirnya sama sekali tidak bisa memberikan kenikmatan terhadap seseorang.
Utility adalah ukuran abstrak dari kepuasan atau kesenangan yang konsumen terima dari sejumlah barang. Ekonom berkata bahwa seorang konsumen lebih menyukai sejumlah barang daripada yang lain jika yang pertama memberikan lebih banyak utility daripada yang kedua.
Teori nilai guna atau utility yaitu teori ekonomi yang mempelajari kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dari mengkonsumsikan barang-barang. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggi nilai guna atau utility-nya. Sebaliknya semakin rendah kepuasan dari suatu barang maka utility-nya semakin rendah pula.
Nilai guna dibedakan diantara dua pengertian:
1. Marginal utility (kepuasan marginal). Yaitu pertambahan/pengurangan kepuasan sebagai akibat adanya pertambahan/pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu.
2. Total utility (total utility). Yaitu keseluruhan kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang-barang tertentu.
Sementara M. Abraham Garcia-Torres dalam "Consumer Behaviour Theory: Utility Maximization and the seek of Novelty" membagi nilai guna menjadi dua. Berdasarkan dua tindakan ekonomi yang dilakukan konsumen, dua tindakan ini saling berhubungan :
1. "Nilai Guna Keputusan (Decision Utility)" yang berhubungan dengan tindakan pembelian (action of purchasing)". Dalam tindakan pembelian konsumen membeli beberapa barang pada waktu yang bersamaan. Dan sebelum melakukan pembelian konsumen harus memutuskan barang yang mana yang akan dia beli.
2. "Nilai Guna Pengalaman (Experienced Utility)" yang berhubungan dengan tindakan konsumsi (action of consumption) dengan kapasitas pemenuhan kepuasan dari barang tersebut.
Kurva indiferen dan utility saling berkaitan. Karena konsumen lebih memilih titik di kurva indeferen yang lebih tinggi, sejumlah barang pada kurva indeferen yang lebih tinggi memberikan utility yang lebih tinggi. Karena konsumen sama senangnya dengan semua titik pada kurva indeferen yang sama, semua barang ini memberikan utilitas yang sama. Kita dapat mengasumsikan kurva indeferen sebagai kurva "equal-utility".
Marginal utility dari sebuah barang adalah kenaikan pada utility yang konsumen dapatkan dari tambahan unit dari barang tersebut. Kebanyakan barang diasumsikan akan memperlihatkan diminishing marginal utility: Semakin banyak barang yang konsumen pakai, semakin rendah marginal utility yang diberikan oleh unit ekstra dari barang tersebut.
Tingkat marginal dari substitusi antara dua barang bergantung pada marginal utility masing-masing barang tersebut. Sebagai contoh, jika marginal utility dari barang X adalah dua kali dari marginal utility barang Y, maka seseorang akan membutuhkan dua unit dari barang Y untuk mengkompensasikan kehilangan satu unit barang X, dan marginal rate dari substitusi tersebut adalah 2. Secara umum, tingkat marginal dari substitusi (dan juga slope dari kurva indeferen) sama dengan marginal utility dari satu barang dibagi dengan marginal utility dari barang lain.
Analisis utility memberikan cara lain dalam menggambarkan optimisasi konsumen. Ingat bahwa saat konsumsi optimum, marginal rate dari substitusi sama dengan rasio dari harga. Sehingga,
MRS = Px/Py
Karena marginal rate dari substitusi sama dengan rasio dari marginal utility, kita dapat menuliskan kondisi dari optimisasi dengan
MUx/MUy = Px/Py
Kemudian dapat diubah menjadi
MUx/Px = MUy/Py
Anggapan-anggapan yang menjadi patokan untuk menganalisa pembentukan garis permintaan dari suatu barang:
1. Barang dan jasa yang dikonsumsi biasanya disebut komoditi. Komoditi adalah sesuatu yang memberikan jasa konsumsi (consumption services) terhadap konsumen per satuan waktu tertentu.
2. Setiap konsumen dianggap tahu macam barang dan jasa yang tersedia di pasar, kapasitas teknis masing-masing barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan konsumen dan tingkat harga masing-masing.
3. Konsumen dianggap tahu secara pasti mengenai jumlah uang yang akan dibelanjakannya selama periode perencanaan tertentu.
Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan yaitu:
1. Pendekatan nilai guna (utility) kardinal
Pendekatan nilai guna (utility) kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif: dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif/dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
Para ahli ekonomi mempercayai bahwa utility merupakan ukuran kebahagian. Utility dianggap bahwa ukuran kemampauan barang/jasa untuk memuaskan kebutuhan. Besar kecilnya utility yang dicapai konsumen tergantung dari jenis barang atau jasa dan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi. Sehingga dapat ditunjukkan oleh fungsi sebagai berikut:
U = f ( X1, X2, X3………, Xn )
U: besar kecilnya kepuasan:
X: jenis dan jumlah barang yang dikonsumsi.
Besar kecilnya kepuasan yang diperoleh konsumen tergantung pada jenis dan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi.
2. Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis kurva indeference: manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif/tidak dapat diukur.
Pendekatan ini muncul karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada pada pendekatan kardinal, meskipun bukan berarti pendekatan kardinal tidak memiliki kelebihan.
27 November 2011
Elastisitas Permintaan Input dan Elastisitas Penawaran Output Bawang Merah Ditinjau Dari Fungsi Produksi
Pendahuluan
Memasuki Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua (PJPT II), sektor Pertanian masih menjadi perhatian di samping sektor Industri. Pertanian yang tangguh akan dapat mendukung sektor industri. Dalam sektor pertanian pemerintah telah menetapkan pengembangan berdasarkan skala prioritas. Prioritas pertama ditujukan pada pengembangan tanaman hortikultura yang selama ini diimpor dari luar negeri, seperti bawang putih, bawang bombay, jamur, jeruk, apel, dan anggur. Prioritas kedua adalah pengembangan tanaman ekspor antara lain kubis, kentang, bawang merah, tomat, dan mangga.
Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu jenis umbi lapis selain bawang putih dan bawang bombay. Bawang merah banyak digunakan sebagai bumbu pelezat makanan dan ramuan obat tradisional. Pada umumnya bawang merah ditanam pada ketinggian 10 sampai 250 m di atas permukaan air laut, meskipun dapat juga ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan air laut.
Masalah yang banyak dihadapi petani bawang merah yaitu fluktuasi harga. Fluktuasi harga disebabkan oleh adanya ketidak-seimbangan antara permintaan dan penawaran juga dipengaruhi oleh jumlah dan harga faktor produksi (input) yang digunakan. Oleh karena itu petani perlu mengetahui harga bawang merah, harga faktor produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.
Dasar Teori
Faktor produksi dalam suatu proses pertanian dibedakan menjadi faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel. Hubungan fisik antara faktor produksi (input) dengan produksi (output) digambarkan dalam bentuk fungsi produksi:
Y = f(x)
di mana Y : produksi (output)
x : faktor produksi (input)
Menurut Hadidarwanto (1983) berdasarkan elastisitas produksinya maka kurva fungsi produksi (gambar 1) dapat dibagi menjadi 3 daerah. Pada daerah I di mana Ep > 1, menunjukkan bahwa PM > PR. Daerah II menunjukkan bahwa PM < PR tetapi masih bernilai positif, sehingga elastisitas produksinya bernilai dari 0 sampai 1 (0 ≤ Ep ≤ 1). Daerah I disebut daerah yang tidak rasional sedangkan daerah II disebut daerah rasional. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar 2.
Pada gambar 2 dapat juga dibuat pembagian daerah seperti pada gambar 1. Daerah I pada saat NPM > NPR dan daerah II pada saat NPM < NPR tetapi masih bernilai positif, sebab
NPM = p. PM
NPR = p. PR
Jika berproduksi pada daerah I petani akan mengalami kerugian, sebab total biaya lebih besar dari total penerimaan (OABX1 > OCDX1). Sebaliknya jika beroperasi pada daerah II petani akan mendapatkan keuntungan sebab total penerimaan lebih besar dari total biaya (OEFX2 > OGHX2)
Pada gambar 2 tepatnya daerah II juga dapat dilihat hubungan antara x (input) dengan MFC tidak lain merupakan harga input. Dengan menambah jumlah input, harga semakin rendah (x2 > x1 dan Px1 < Px2). Hubungan ini sama dengan hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta dalam fungsi permintaan, sehingga kurva NPM merupakan kurva permintaan input.
Fungsi produksi mempunyai sifat dualitas dengan fungsi biaya, sehingga dari fungsi produksi dapat mencerminkan fungsi biaya atau fungsi biaya merupakan fungsi invers dari fungsi produksi. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Fungsi produksi : Y = f(x)
Fungsi biaya : X = v. f^-1(Y)
Dengan diketahui fungsi biaya total dapat diturunkan fungsi biaya marginal yang tidak lain adalah penawaran output. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
π = TR - TC
Syarat keuntungan maksimal adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap output = 0 atau dπ/dy = 0, sehingga akan diperoleh MC=MR=p (harga output). Kondisi ini dapat digambarkan seperti pada gambar 3.
Pada saat harga output P0 jumlah output yang dihasilkan sebesar Y0. Jika harga naik sebesar P2 maka output yang diproduksi meningkat lagi sebesar Y2. Kurva MC di atas AC pada terjadi keuntungan yang maksimal merupakan fungsi penawaran sebab dengan naiknya harga output, jumlah barang yang ditawarkan meningkat.
HIPOTESIS
1. Diduga penggunaan faktor produksi bawang merah belum efisien.
2. Diduga permintaan input akibat adanya perubahan harga output bersifat elastis.
3. Diduga penawaran output akibat adanya perubahan harga input bersifat tidak elastis.
METODE ANALISIS
Penelitian dilakukan di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul dengan sampel petani sejumlah 60.
1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap bawang merah digunakan model analisis fungsi produksi Cobb-Douglass
Y = a Xi^bi
di mana, Y: Produksi bawang merah Xi (1,2,3, ...11) : faktor produksi lahan, bibit, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCL, pupuk ZA, insektisida, fungisida, perekat, Tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga.
Untuk melihat efisiensi penggunaan faktor produksi, menggunakan perbandingan Nilai Produksi Marginal (NPMxi) dengan harga input (pxi) atau NPMxi/Pxi.
Apabila NPMxi/Pxi = 1 maka penggunaan input dikatakan efisien.
NPMxi/Pxi > 1 maka penggunaan input dikatakan tidak efisien.
2. Untuk menentukan fungsi permintaan dengan mendiferensialkan fungsi keuntungan. Sedangkan elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output dapat dirumuskan dengan
Ex = dx/dPy - Py/x
=-1/(b-1)
3. Fungsi penawaran turunan dari fungsi biaya, di mana fungsi biaya adalah fungsi invers dari fungsi produksi. Elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input dapat dirumuskan dengan:
Ey = dy/dPx - Px/y
=-b/(1-b)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi bawang merah adalah lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada tingkat signifikansi sebesar 10 persen. Sedangkan faktor produksi bibit, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCI, pupuk ZA, insektisida, fungisida, dan tenaga kerja luar keluarga, mempunyai kecenderungan dalam mempengaruhi produksi bawang merah yaitu bisa meningkatkan ataupun menurunkan produksi bawang merah. Koefisien determinasi sebesar 87,27 persen. Ini berarti keragaman produksi bawang merah dapat dijelaskan oleh kesebelas perubah (faktor produksi) tersebut. Sedangkan 12,73 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutsertakan dalam model (tabel1).
Keadaan seperti ini dikarenakan adanya kelemahan penelitian yang antara lain adalah kondisi petani sampel yang sangat homogen baik tingkat umurnya, tingkat pendidikannya, maupun tingkat keterampilannya. Sehingga menyebabkan dalam hal menjawab pertanyaan tidak seperti yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan biasnya data yang dinalisis.
Dilihat dari efisiensi penggunaan faktor produksi usaha tani bawang merah ternyata faktor produksi lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga tidak efisien (tabel 2). Untuk lahan penggunaannya masih perlu ditingkatkan yaitu dengan pengolahan yang lebih baik lagi. Di samping itu upaya yang perlu dilakukan agar faktor produksi lahan menjadi efisien yaitu dengan penambahan luas areal mengingat pemilikan lahan petani untuk usaha tani bawang merah relatif sempit. Meskipun penambahan luas lahan ini cukup sulit, karena lahan dalam jangka pendek merupakan input tetap. Akan tetapi ini bisa dilakukan dengan menyewa.
Fungsi perekat usaha tani bawang merah adalah sebagai pencampur insektisida tertentu sehingga dapat berfungsi lebih baik. Penggunaan perekat pada usaha tani bawang merah masih terlalu berlebihan sehingga menjadi tidak efisien dan perlu dikurangi.
Penggunaan tenaga kerja luar keluarga oleh petani sampel masih terlalu berlebihan. Dalam kenyataan penggunaan tenaga kerja pada usaha tani bawang merah cukup banyak. Akan tetapi dengan pemilikan lahan relatif sempit menyebabkan penggunaan tenaga kerja menjadi tidak efisien. Untuk mengurangi biaya usaha tani bawang merah khususnya penggunaan tenaga kerja oleh anggota keluarga petani hendaknya tidak diupahkan.
Elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output sebesar 78,128 (elastis) artinya setiap ada kenaikan harga bawang merah sebesar 1% maka permintaan terhadap input naik sebesar 78,218 persen ceteris paribus. Sedangkan elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input sebesar -77,125 (tidak elastis) artinya setiap ada kenaikan harga input (faktor produksi) sebesar 1 persen maka penawaran bawang merah akan turun sebesar 77,125 persen ceteris paribus.
Nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tersebut ternyata terlalu besar. Hal ini dikarenakan perhitungan elastisitas tersebut merupakan turunan dari fungsi produksi tidak secara empirik. Sehingga kesalahan dalam menentukan parameter pada fungsi produksi akan berpengaruh terhadap perhitungan elastisitas permintaan maupun penawaran. Keadaan sangat berkaitan dalam penelitian ini, yang mana penggunaan faktor produksinya tidak efisien. Dengan penggunaan input yang tidak efisien, apabila ada perubahan harga input (faktor produksi) maupun harga output (bawang merah) maka petani akan merubah penggunaan faktor produksi dalam jumlah yang cukup besar.
KESIMPULAN
Terbatas pada penelitian yang dilakukan di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penggunaan faktor produksi lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada usaha tani bawang merah belum dilakukan secara efisien.
2. Elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output sebesar 78,128 (elastis).
3. Elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input sebesar -77,125 (tidak elastis).
SARAN
Melihat kondisi Desa Srigading yang sangat potensial untuk usaha tani bawang merah, maka perlu banyak upaya yang dilakukan seperti mengaktifkan kegiatan penyuluhan, supaya produksi bawang merah dapat seoptimal mungkin. Dengan demikian, penggunaan faktor produksi bawang merah bisa lebih efisien dan nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tidak terlalu besar.
Sumber: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/419669.pdf
Penulis: Nur Rahmawati dan Eni Istiyanti (Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Analisis:
Harga bawang merah berfluktuasi selain karena tidak seimbangnya permintaan dan penawaran namun juga karena jumlah dan harga faktor produksi (input) yang digunakan. Jurnal ini meneliti pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap produksi bawang merah menggunakan model analisis fungsi produksi Cobb-Douglass. Hasilnya adalah faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi bawang merah adalah lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada tingkat signifikansi sebesar 10 persen. Disarankan oleh peneliti untuk perlu banyak upaya yang dilakukan seperti mengaktifkan kegiatan penyuluhan, supaya produksi bawang merah dapat seoptimal mungkin. Dengan demikian, penggunaan faktor produksi bawang merah bisa lebih efisien dan nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tidak terlalu besar.
Memasuki Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua (PJPT II), sektor Pertanian masih menjadi perhatian di samping sektor Industri. Pertanian yang tangguh akan dapat mendukung sektor industri. Dalam sektor pertanian pemerintah telah menetapkan pengembangan berdasarkan skala prioritas. Prioritas pertama ditujukan pada pengembangan tanaman hortikultura yang selama ini diimpor dari luar negeri, seperti bawang putih, bawang bombay, jamur, jeruk, apel, dan anggur. Prioritas kedua adalah pengembangan tanaman ekspor antara lain kubis, kentang, bawang merah, tomat, dan mangga.
Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu jenis umbi lapis selain bawang putih dan bawang bombay. Bawang merah banyak digunakan sebagai bumbu pelezat makanan dan ramuan obat tradisional. Pada umumnya bawang merah ditanam pada ketinggian 10 sampai 250 m di atas permukaan air laut, meskipun dapat juga ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan air laut.
Masalah yang banyak dihadapi petani bawang merah yaitu fluktuasi harga. Fluktuasi harga disebabkan oleh adanya ketidak-seimbangan antara permintaan dan penawaran juga dipengaruhi oleh jumlah dan harga faktor produksi (input) yang digunakan. Oleh karena itu petani perlu mengetahui harga bawang merah, harga faktor produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya.
Dasar Teori
Faktor produksi dalam suatu proses pertanian dibedakan menjadi faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel. Hubungan fisik antara faktor produksi (input) dengan produksi (output) digambarkan dalam bentuk fungsi produksi:
Y = f(x)
di mana Y : produksi (output)
x : faktor produksi (input)
Menurut Hadidarwanto (1983) berdasarkan elastisitas produksinya maka kurva fungsi produksi (gambar 1) dapat dibagi menjadi 3 daerah. Pada daerah I di mana Ep > 1, menunjukkan bahwa PM > PR. Daerah II menunjukkan bahwa PM < PR tetapi masih bernilai positif, sehingga elastisitas produksinya bernilai dari 0 sampai 1 (0 ≤ Ep ≤ 1). Daerah I disebut daerah yang tidak rasional sedangkan daerah II disebut daerah rasional. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar 2.
Pada gambar 2 dapat juga dibuat pembagian daerah seperti pada gambar 1. Daerah I pada saat NPM > NPR dan daerah II pada saat NPM < NPR tetapi masih bernilai positif, sebab
NPM = p. PM
NPR = p. PR
Jika berproduksi pada daerah I petani akan mengalami kerugian, sebab total biaya lebih besar dari total penerimaan (OABX1 > OCDX1). Sebaliknya jika beroperasi pada daerah II petani akan mendapatkan keuntungan sebab total penerimaan lebih besar dari total biaya (OEFX2 > OGHX2)
Pada gambar 2 tepatnya daerah II juga dapat dilihat hubungan antara x (input) dengan MFC tidak lain merupakan harga input. Dengan menambah jumlah input, harga semakin rendah (x2 > x1 dan Px1 < Px2). Hubungan ini sama dengan hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta dalam fungsi permintaan, sehingga kurva NPM merupakan kurva permintaan input.
Fungsi produksi mempunyai sifat dualitas dengan fungsi biaya, sehingga dari fungsi produksi dapat mencerminkan fungsi biaya atau fungsi biaya merupakan fungsi invers dari fungsi produksi. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Fungsi produksi : Y = f(x)
Fungsi biaya : X = v. f^-1(Y)
Dengan diketahui fungsi biaya total dapat diturunkan fungsi biaya marginal yang tidak lain adalah penawaran output. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
π = TR - TC
Syarat keuntungan maksimal adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap output = 0 atau dπ/dy = 0, sehingga akan diperoleh MC=MR=p (harga output). Kondisi ini dapat digambarkan seperti pada gambar 3.
Pada saat harga output P0 jumlah output yang dihasilkan sebesar Y0. Jika harga naik sebesar P2 maka output yang diproduksi meningkat lagi sebesar Y2. Kurva MC di atas AC pada terjadi keuntungan yang maksimal merupakan fungsi penawaran sebab dengan naiknya harga output, jumlah barang yang ditawarkan meningkat.
HIPOTESIS
1. Diduga penggunaan faktor produksi bawang merah belum efisien.
2. Diduga permintaan input akibat adanya perubahan harga output bersifat elastis.
3. Diduga penawaran output akibat adanya perubahan harga input bersifat tidak elastis.
METODE ANALISIS
Penelitian dilakukan di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul dengan sampel petani sejumlah 60.
1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap bawang merah digunakan model analisis fungsi produksi Cobb-Douglass
Y = a Xi^bi
di mana, Y: Produksi bawang merah Xi (1,2,3, ...11) : faktor produksi lahan, bibit, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCL, pupuk ZA, insektisida, fungisida, perekat, Tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga.
Untuk melihat efisiensi penggunaan faktor produksi, menggunakan perbandingan Nilai Produksi Marginal (NPMxi) dengan harga input (pxi) atau NPMxi/Pxi.
Apabila NPMxi/Pxi = 1 maka penggunaan input dikatakan efisien.
NPMxi/Pxi > 1 maka penggunaan input dikatakan tidak efisien.
2. Untuk menentukan fungsi permintaan dengan mendiferensialkan fungsi keuntungan. Sedangkan elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output dapat dirumuskan dengan
Ex = dx/dPy - Py/x
=-1/(b-1)
3. Fungsi penawaran turunan dari fungsi biaya, di mana fungsi biaya adalah fungsi invers dari fungsi produksi. Elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input dapat dirumuskan dengan:
Ey = dy/dPx - Px/y
=-b/(1-b)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi bawang merah adalah lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada tingkat signifikansi sebesar 10 persen. Sedangkan faktor produksi bibit, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCI, pupuk ZA, insektisida, fungisida, dan tenaga kerja luar keluarga, mempunyai kecenderungan dalam mempengaruhi produksi bawang merah yaitu bisa meningkatkan ataupun menurunkan produksi bawang merah. Koefisien determinasi sebesar 87,27 persen. Ini berarti keragaman produksi bawang merah dapat dijelaskan oleh kesebelas perubah (faktor produksi) tersebut. Sedangkan 12,73 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutsertakan dalam model (tabel1).
Keadaan seperti ini dikarenakan adanya kelemahan penelitian yang antara lain adalah kondisi petani sampel yang sangat homogen baik tingkat umurnya, tingkat pendidikannya, maupun tingkat keterampilannya. Sehingga menyebabkan dalam hal menjawab pertanyaan tidak seperti yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan biasnya data yang dinalisis.
Dilihat dari efisiensi penggunaan faktor produksi usaha tani bawang merah ternyata faktor produksi lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga tidak efisien (tabel 2). Untuk lahan penggunaannya masih perlu ditingkatkan yaitu dengan pengolahan yang lebih baik lagi. Di samping itu upaya yang perlu dilakukan agar faktor produksi lahan menjadi efisien yaitu dengan penambahan luas areal mengingat pemilikan lahan petani untuk usaha tani bawang merah relatif sempit. Meskipun penambahan luas lahan ini cukup sulit, karena lahan dalam jangka pendek merupakan input tetap. Akan tetapi ini bisa dilakukan dengan menyewa.
Fungsi perekat usaha tani bawang merah adalah sebagai pencampur insektisida tertentu sehingga dapat berfungsi lebih baik. Penggunaan perekat pada usaha tani bawang merah masih terlalu berlebihan sehingga menjadi tidak efisien dan perlu dikurangi.
Penggunaan tenaga kerja luar keluarga oleh petani sampel masih terlalu berlebihan. Dalam kenyataan penggunaan tenaga kerja pada usaha tani bawang merah cukup banyak. Akan tetapi dengan pemilikan lahan relatif sempit menyebabkan penggunaan tenaga kerja menjadi tidak efisien. Untuk mengurangi biaya usaha tani bawang merah khususnya penggunaan tenaga kerja oleh anggota keluarga petani hendaknya tidak diupahkan.
Elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output sebesar 78,128 (elastis) artinya setiap ada kenaikan harga bawang merah sebesar 1% maka permintaan terhadap input naik sebesar 78,218 persen ceteris paribus. Sedangkan elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input sebesar -77,125 (tidak elastis) artinya setiap ada kenaikan harga input (faktor produksi) sebesar 1 persen maka penawaran bawang merah akan turun sebesar 77,125 persen ceteris paribus.
Nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tersebut ternyata terlalu besar. Hal ini dikarenakan perhitungan elastisitas tersebut merupakan turunan dari fungsi produksi tidak secara empirik. Sehingga kesalahan dalam menentukan parameter pada fungsi produksi akan berpengaruh terhadap perhitungan elastisitas permintaan maupun penawaran. Keadaan sangat berkaitan dalam penelitian ini, yang mana penggunaan faktor produksinya tidak efisien. Dengan penggunaan input yang tidak efisien, apabila ada perubahan harga input (faktor produksi) maupun harga output (bawang merah) maka petani akan merubah penggunaan faktor produksi dalam jumlah yang cukup besar.
KESIMPULAN
Terbatas pada penelitian yang dilakukan di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penggunaan faktor produksi lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada usaha tani bawang merah belum dilakukan secara efisien.
2. Elastisitas permintaan input akibat adanya perubahan harga output sebesar 78,128 (elastis).
3. Elastisitas penawaran output akibat adanya perubahan harga input sebesar -77,125 (tidak elastis).
SARAN
Melihat kondisi Desa Srigading yang sangat potensial untuk usaha tani bawang merah, maka perlu banyak upaya yang dilakukan seperti mengaktifkan kegiatan penyuluhan, supaya produksi bawang merah dapat seoptimal mungkin. Dengan demikian, penggunaan faktor produksi bawang merah bisa lebih efisien dan nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tidak terlalu besar.
Sumber: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/419669.pdf
Penulis: Nur Rahmawati dan Eni Istiyanti (Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Analisis:
Harga bawang merah berfluktuasi selain karena tidak seimbangnya permintaan dan penawaran namun juga karena jumlah dan harga faktor produksi (input) yang digunakan. Jurnal ini meneliti pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap produksi bawang merah menggunakan model analisis fungsi produksi Cobb-Douglass. Hasilnya adalah faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi bawang merah adalah lahan, perekat, dan tenaga kerja luar keluarga pada tingkat signifikansi sebesar 10 persen. Disarankan oleh peneliti untuk perlu banyak upaya yang dilakukan seperti mengaktifkan kegiatan penyuluhan, supaya produksi bawang merah dapat seoptimal mungkin. Dengan demikian, penggunaan faktor produksi bawang merah bisa lebih efisien dan nilai elastisitas permintaan input maupun elastisitas penawaran output tidak terlalu besar.
07 November 2011
Potensi dan Kendala Budidaya Bawang Merah
Globalisasi perdagangan internasional memberi peluang dan tantangan bagi perekonomian nasional, termasuk didalamnya agribisnis. Kesepakatan-kesepakatan GATT, WTO, AFTA, APEC dan organisasi perdagangan dunia lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing. Daya saing dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Sebagai negara agraris, Indonesia menghasilkan beragam jenis hasil bumi yang berpotensi besar untuk dijadikan sebagai ladang usaha. Mulai dari produk pertanian sampai produk hortikultura, semuanya memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Sehingga banyak masyarakat yang membudidayakan berbagai produk pertanian dan hortikultura sebagai potensi bisnis yang cukup menjanjikan.
Salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah Bawang merah (allium ascalonicum). Banyaknya manfaat yang dapat diambil dari bawang merah dan tingginya nilai ekonomi yang dimiliki sayuran ini, membuat para petani di berbagai daerah tertarik membudidayakannya untuk mendapatkan keuntungan besar dari potensi bisnis tersebut.
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas dibanding komoditas pangan lainnya. Karena memiliki kemandirian dan campur tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam system agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena perubahan permintaan dan penawaran.
Kabupaten Brebes merupakan daerah sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah yang memiliki potensi wilayah kondusif bagi pengembangan bawang merah. Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki dalam hal potensi wilayah dan tenaga kerja diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas bawang merah.
Budidaya bawang merah memang memberikan keuntungan cukup besar bagi para petaninya. Mengingat saat ini kebutuhan pasar akan bawang merah semakin meningkat tajam, seiring dengan meningkatnya jumlah pelaku bisnis makanan yang tersebar di berbagai daerah. Kondisi ini terjadi karena bawang merah sering dimanfaatkan masyarakat untuk bahan baku pembuatan bumbu masakan, dan menjadi bahan utama dalam proses produksi bawang goreng yang sering digunakan sebagai pelengkap berbagai menu kuliner.
Hal inilah yang mendorong para petani di daerah Jawa Tengah (khususnya Brebes), Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara (terutama di pulau Samosir), Bali, Lombok, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan beberapa daerah lainnya untuk memilih budidaya bawang merah.
Meskipun keuntungan yang diperoleh dari budidaya bawang merah cukup tinggi, namun sampai sekarang para petani belum bisa membudidayakan bawang dengan optimal. Selama ini mereka hanya menjalankan proses pembudidayaan bawang merah pada musim kemarau saja. Karena para petani masih sangat tergantung dengan bantuan sinar matahari untuk proses budidaya dan proses pengeringan bawang merah pada saat pasca panen. Tentu keadaan ini sering merugikan para petani bawang merah, sebab persediaan produk yang tidak stabil menyebabkan harganya mengalami fluktuasi (naik di saat musim kemarau dan turun drastis di musim panen).
Sulit dipungkiri bahwa sejauh ini sebagian besar petani bawang merah belum mampu mengendalikan harga jual yang kadang melambung tinggi dan di lain waktu justru melorot hingga harga terendah. Kalau dikaji lebih jauh, fluktuasi harga bawang merah tersebut sesungguhnya sebagai dampak ulah para tengkulak yang selama ini menguasai jalur distribusi perdagangan komoditas tersebut. Tidak jarang para tengkulak membohongi para petani dengan menyebutkan bahwa stok bawang merah di pasaran demikian banyak sehingga mereka tidak berminat membeli bawang merah dalam jumlah yang besar. Dalam kondisi seperti ini, petani bawang merah jelas sangat terpojok. Kalau bawangnya dibiarkan tidak dijual dalam jangka waktu lama, maka dikhawatirkan akan membusuk. Selain itu, karena bertani dengan modal yang terbatas, mereka berharap hasil panen bawang merah segera terjual untuk menutupi kebutuhan. Akhirnya meskipun dengan harga jual yang murah, mereka terpaksa menjualnya kepada tengkulak.
Untuk mencegah kerugian tersebut, maka diperlukan upaya untuk dapat membudidayakan bawang merah sepanjang tahun. Misalnya dengan budidaya di luar musim, dan menggunakan bantuan mesin tepat guna untuk membantu pengeringan hasil bawang merah. Dengan begitu, diharapkan produksi dan harga bawang merah dipasaran bisa terus stabil sesuai dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Dari uraian di atas, setidaknya dapat ditarik benang merah yang berkaitan dengan seringnya terjadi fluktuasi bawang merah sebagai komoditi unggulan masyarakat. Pertama, ketergantungan masyarakat terhadap bawang tidaklah selalu menguntungkan. Karena ketika harga bawang merah jatuh, kondisi ekonomi masyarakatnya pun secara otomatis akan terpengaruh.
Kedua, selama ini sebagian masyarakat baru menguasai masalah penanamannya saja. Sedangkan masalah distribusi, pengolahan pasca panen serta inovasi-inovasi lainnya termasuk menyangkut keseriusan masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjadikan bawang merah sebagai komuditas unggulan yang dioptimalkan belum banyak yang berpikir ke arah tersebut.
Dalam hal ini mengacu pada berbagai permasalahan di atas, setidaknya terdapat tiga hal yang harus segera dibenahi berkaitan dengan keadaan petani bawang merah. Pertama, political will dari pemerintah daerah dan masyarakatnya untuk tetap menjaga eksistensi bawang merah yang selama ini dikenal sebagai komoditi unggulan dengan mengoptimalkan potensi kompetitif dengan seperangkat regulasi yang medukung kebijakan tersebut. Kedua, sistem pemasaran yang selama ini cenderung masih tradisionalis dan merugikan petani hendaknya secara bertahap diubah ke arah yang lebih menguntungkan petani dengan cara melakukan inovasi-inovasi untuk mendapatkan nilai plus di pasaran, semisal membrandingkan bawang merah khas masing-masing daerah dan mengklasifikasikannya menurut jenis dan kualitasnya. Hal ini dimaksudkan untuk menambah daya tawar di pasaran. Ketiga, hendaknya dilakukan pembinaan SDM secara terarah dan terpadu.
Pada akhirnya, semua faktor di atas tidak akan berhasil tanpa adanya keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib petani. Bagaimanapun keterbatasan pola pikir petani saat ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana upaya kita untuk membantu kehidupan para petani bawang merah tersebut agar benar-benar menikmati hasil keringatnya secara optimal.
Sumber:
04 November 2011
Price Ceiling dan Price Floor
Bagaimana Price ceiling mempengaruhi pasar.
Gambar di atas menunjukkan kasus di mana pemerintah menetapkan harga maksimum di bawah harga keseimbangan, sehingga price ceiling mengikat pasar. Kekuatan penawaran dan permintaan cenderung menggerakkan harga menuju harga keseimbangan, tapi ketika harga pasar tertahan ceiling, harga tidak dapat naik lebih jauh. Sehingga, harga pasar sama dengan price ceiling. Pada harga ini, jumlah barang yang diminta melebihi jumlah yang ditawarkan. Terjadi shortage pada barang, sehingga sebagian orang yang ingin membeli barang pada harga yang terjadi tidak dapat melakukan pembelian.
Bagaimana Price floor mempengaruhi pasar.
Gambar di atas menunjukkan apa yang terjadi ketika pemerintah menerapkan price floor. Dalam kasus ini, karena harga keseimbangan di bawah floor, price floor mengikat pasar. Kekuatan penawaran dan permintaan cenderung menggerakkan harga menuju harga keseimbangan, tapi ketika harga pasar tertahan floor, harga tidak dapat turun lebih jauh. Sehingga, harga pasar sama dengan price floor. Pada harga ini, jumlah barang yang ditawarkan melebihi jumlah yang diminta. Sebagian orang yang ingin menjual barang pada harga yang terjadi tidak dapat melakukan penjualan. Jadi, price floor mengakibatkan surplus.
Gambar di atas menunjukkan kasus di mana pemerintah menetapkan harga maksimum di bawah harga keseimbangan, sehingga price ceiling mengikat pasar. Kekuatan penawaran dan permintaan cenderung menggerakkan harga menuju harga keseimbangan, tapi ketika harga pasar tertahan ceiling, harga tidak dapat naik lebih jauh. Sehingga, harga pasar sama dengan price ceiling. Pada harga ini, jumlah barang yang diminta melebihi jumlah yang ditawarkan. Terjadi shortage pada barang, sehingga sebagian orang yang ingin membeli barang pada harga yang terjadi tidak dapat melakukan pembelian.
Bagaimana Price floor mempengaruhi pasar.
Gambar di atas menunjukkan apa yang terjadi ketika pemerintah menerapkan price floor. Dalam kasus ini, karena harga keseimbangan di bawah floor, price floor mengikat pasar. Kekuatan penawaran dan permintaan cenderung menggerakkan harga menuju harga keseimbangan, tapi ketika harga pasar tertahan floor, harga tidak dapat turun lebih jauh. Sehingga, harga pasar sama dengan price floor. Pada harga ini, jumlah barang yang ditawarkan melebihi jumlah yang diminta. Sebagian orang yang ingin menjual barang pada harga yang terjadi tidak dapat melakukan penjualan. Jadi, price floor mengakibatkan surplus.
Pergeseran Kurva Penawaran
Kita ambil contoh barang dalam hal ini adalah pensil. Kurva penawaran menunjukkan seberapa banyak produsen pensil menawarkan barang dagangannya dalam suatu harga tertentu. Faktor-faktor selain harga yang mempengaruhi keputusan produsen untuk menjual seberapa banyak dianggap tetap. Hubungan ini dapat berubah seiring waktu, yang direpresentasikan oleh pergeseran dari kurva penawaran. Contoh, misalkan harga kayu jatuh. Karena kayu adalah bahan baku dari pensil, maka kejatuhan harga kayu membuat menjual pensil menjadi lebih menguntungkan. Ini meningkatkan penawaran pensil: Pada suatu harga yang terjadi, penjual kini lebih ingin memproduksi dalam jumlah yang lebih banyak. Sehingga, kurva penawaran bergeser ke kanan.
Gambar di atas mengilustrasikan pergeseran dari penawaran. Setiap perubahan yang meningkatkan jumlah yang ditawarkan pada tiap tingkat harga, seperti misalnya turunnya harga kayu, menggeser kurva penawaran ke kanan dan ini disebut peningkatan penawaran. Sebaliknya, setiap perubahan yang mengurangi jumlah barang yang ditawarkan pada suatu tingkat harga menggeser kurva penawaran ke kiri dan ini disebut penurunan penawaran.
Terdapat banyak variabel yang dapat menggeser kurva penawaran. Di antaranya adalah:
1. Harga Input. Untuk memproduksi pensil, penjual menggunakan berbagai macam input: kayu, karbon, mesin untuk membuat pensil, tenaga kerja, dll. Ketika harga dari satu atau lebih input ini naik, memproduksi pensil menjadi kurang menguntungkan, dan perusahaan menawarkan lebih sedikit pensil. Jika harga input naik tinggi sekali, perusahaan mungkin akan tutup dan tidak menawarkan pensil sama sekali. Kesimpulannya, penawaran dari suatu barang berhubungan negatif dengan harga dari input yang digunakan untuk membuat barang.
2. Teknologi. Teknologi untuk mengubah input menjadi pensil adalah penentu lainnya dari penawaran. Penemuan dari mesin pembuat pensil yang telah termekanisasi, contohnya, mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuat pensil. Dengan mengurangi biaya perusahaan, perkembangan teknologi meningkatkan penawaran pensil.
3. Ekspektasi. Jumlah pensil yang perusahaan tawarkan hari ini mungkin tergantung pada ekspektasi dari masa depan. Contohnya, jika perusahaan berharap harga pensil akan naik di masa depan, perusahaan akan menyimpan produksinya sekarang ke dalam gudang dan akan menawarkan lebih sedikit ke pasar pada hari ini.
4. Jumlah Penjual. Penawaran di pasar tergantung pada semua faktor yang mempengaruhi penawaran dari penjual individu, seperti harga input yang digunakan untuk memproduksi barang, teknologi yang tersedia, dan ekspektasi. Satu hal lagi, penawaran dalam pasar tergantung dari jumlah penjual. Jika salah satu penjual pensil keluar dari bisnis pensil, penawaran dalam pasar akan turun.
Gambar di atas mengilustrasikan pergeseran dari penawaran. Setiap perubahan yang meningkatkan jumlah yang ditawarkan pada tiap tingkat harga, seperti misalnya turunnya harga kayu, menggeser kurva penawaran ke kanan dan ini disebut peningkatan penawaran. Sebaliknya, setiap perubahan yang mengurangi jumlah barang yang ditawarkan pada suatu tingkat harga menggeser kurva penawaran ke kiri dan ini disebut penurunan penawaran.
Terdapat banyak variabel yang dapat menggeser kurva penawaran. Di antaranya adalah:
1. Harga Input. Untuk memproduksi pensil, penjual menggunakan berbagai macam input: kayu, karbon, mesin untuk membuat pensil, tenaga kerja, dll. Ketika harga dari satu atau lebih input ini naik, memproduksi pensil menjadi kurang menguntungkan, dan perusahaan menawarkan lebih sedikit pensil. Jika harga input naik tinggi sekali, perusahaan mungkin akan tutup dan tidak menawarkan pensil sama sekali. Kesimpulannya, penawaran dari suatu barang berhubungan negatif dengan harga dari input yang digunakan untuk membuat barang.
2. Teknologi. Teknologi untuk mengubah input menjadi pensil adalah penentu lainnya dari penawaran. Penemuan dari mesin pembuat pensil yang telah termekanisasi, contohnya, mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuat pensil. Dengan mengurangi biaya perusahaan, perkembangan teknologi meningkatkan penawaran pensil.
3. Ekspektasi. Jumlah pensil yang perusahaan tawarkan hari ini mungkin tergantung pada ekspektasi dari masa depan. Contohnya, jika perusahaan berharap harga pensil akan naik di masa depan, perusahaan akan menyimpan produksinya sekarang ke dalam gudang dan akan menawarkan lebih sedikit ke pasar pada hari ini.
4. Jumlah Penjual. Penawaran di pasar tergantung pada semua faktor yang mempengaruhi penawaran dari penjual individu, seperti harga input yang digunakan untuk memproduksi barang, teknologi yang tersedia, dan ekspektasi. Satu hal lagi, penawaran dalam pasar tergantung dari jumlah penjual. Jika salah satu penjual pensil keluar dari bisnis pensil, penawaran dalam pasar akan turun.
Subscribe to:
Posts (Atom)







