04 March 2012

Ujian Teori Ekonomi 2 (Ringkasan Jurnal)

1 Abdul Halim Utama                   ( 20210018 )
2  Nindy Sintya Indriani Rachman ( 25210004 )

PERBANDINGAN KEUNTUNGAN dan DAYA SAING PERDAGANGAN di BIDANG PERTANIAN HUNGARIA

      Hasil penelitian ini menunjukkan variasi yang besar dalam indeks RTA (Tabel 1). Nilai negatif dari median menunjukkan bahwa jumlah yang lebih besar dari produk pangan-agro mengalami RTA < 0 pada 15 pasar Uni Eropa. Menurut tingkat pengolahan, RTA negatif untuk makanan yang siap dikonsumsi oleh konsumen. Hongaria mengeksplorasi keuntungan perdagangan komparatif untuk komoditas baku massal, proses perantara dan hortikultura.

Berikut ini adalah Tabel Statistik Keterangan 1 untuk RTA (1995-2003)
RTA

Maksimum
644.27
Minimum
-544.48
Standar deviasi
77.18
Rata-rata
-0.03
Mean nilai
4.02
RTA < 0 (jumlah produk)
959
RTA > 0 (jumlah produk)
742
Mean nilai RTA

Komoditas Baku Massal
18.83
Olahan intermediasi
8.89
Makanan siap konsumsi
-6.27
Hortikultura
3.04
 Sumber: Perhitungan sendiri berdasarkan data OECD


Kesimpulan
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa Hongaria telah mengalami peningkatan produk dengan kerugian perdagangan komparatif dan signifikansi yang jauh lebih besar dari impor satu arah. Tingkat durasi untuk tetap unggul secara komparatif sedikit lebih lama dari tingkat durasi untuk tetap sukses dalam persaingan harga atau berhasil dalam persaingan kualitas atau ekspor satu arah. Ini menegaskan bahwa keunggulan komparatif menangkap unsur struktural jangka panjang yang lebih stabil dari sektor ekonomi daripada ukuran daya saing perdagangan.

Hongaria berbeda dari anggota CE-4 yang lain dengan keunggulan komparatif untuk beberapa produk makanan-agro, khususnya untuk komoditas baku massal, proses intermediasi, dan hortikultura. Dengan signifikansi terbesar dari persaingan kualitas yang sukses dan ekspor satu arah, signifikansi terendah dari harga dan persaingan kualitas yang tidak berhasil.

Akhirnya, hasil ini mengkonfirmasi bahwa meskipun ukuran keunggulan komparatif dan daya saing perdagangan bukan ukuran yang sama, ada konsistensi yang lebih besar antara keunggulan komparatif dan langkah-langkah persaingan perdagangan saat jenis-jenis daya saing perdagangan yang diurai di data perdagangan yang sudah terpilah.

Dalam kasus tertentu jurnal ini menganalisis perbandingan ukuran keunggulan komparatif dan daya saing perdagangan serta tingkat bahaya yang diperkirakan mengkonfirmasi bahwa ukuran keunggulan komparatif konsisten dengan ekspor satu arah, harga yang sukses, dan persaingan kualitas yang sukses dalam perdagangan dua arah di satu sisi, dan kelemahan komparatif dengan impor satu arah, serta harga dan persaingan kualitas yang tidak berhasil di sisi lain.



RITEL, PAKAIAN dan PRODUKSI TEKSTIL di AUSTRALIA

      Akibat krisis ekonomi dunia pada 1970-an sulit bagi pemerintah nasional untuk menjaga permintan pakaian dan tekstil. Hal tersebut menciptakan peraturan bahwa Australia harus menginternasionalisasikan ekonominya dan menyatukan industri ke dalam arus perdagangan global. 

      Terdapat 4 argumen yang merekomendasikan penghilangan halangan perdagangan yang memproteksi pabrik pakaian dan tekstil Australia dari kompetisi luar negeri. Pertama, relatif memberikan Australia upah yang tinggi. Kdeua, akan meningkatkan kesejahteraan karena meningkatnya pilihan yang tersedia bagi konsumen Australia. Ketiga, akan menurunkan harga pakaian dan rumah tangga dapat mengalihkan pengeluarannya ke produk dan jasa berteknologi tinggi. Keempat, memperlihatkan kepada rekanan dagang Australia bahwa Australia serius dengan komitmennya bahwa liberalisasi halangan perdagangan akan membantu membuka akses pasar untuk ekspor komoditas pertanian dan mineral yang di produksi secara efisien.

      Seperti pasar negara barat lainnya, pasar Australia sangat tersegmentasi atau terfragmentasi. Tidak hanya berdasarkan pendapatan, tetapi juga segmen yang dibedakan oleh jenis kelamin, umur, ukuran badan, dan selera estetika. Ini memisahkan pasar menjadi pasar-pasar kecil yang dibedakan oleh selera gaya hidup.

      Sebelum liberalisasi halangan perdagangan, impor garmen diatur oleh sistem kuota. Tetapi setelah liberalisasi, pabrik besar mengosongkan operasi mereka, manajemen tetap ada, fungsi desaign dan logistik di Australia tetapi memindahkan aktivitas manufaktur mereka ke negara berupah rendah, terutama China. Sehingga, mereka menjadi importir.

Kesimpulan

      Industri pakaian dan tekstil Australia adalah yang pertama kali menghadapi realita dari peraturan perdagangan terbuka dan pasar internasional diantara negara-negara barat. Efeknya sangat menghancurkan bagi tenaga kerja pada 1985. Bagaimanapun setelah 20 tahun reformasi, sebagian industrinya telah mengokohkan tempatnya pada ekonomi baru.

            Sejarah dari industri produksi pakaian Australia selama 20 tahun terakhir memperlihatkan bahwa tidak perduli tidak bersahabatnya peraturan, industri produksi pakaian tidak menghilang dari ekonomi upah tinggi. Terlihat jelas dari cerita ini, bahwa karena orang ingin bekerja di industri fashion dan pakaian, pekerja atau pun modal tidak akan berubah menjadi lebih efisien seperti yang diprediksikan oleh teori ekonomi. Bagaimanapun, ketika industri yang sangat mobile ini menghadapi kompetisi global, harga dari pekerja tidak dapat dielakkan lagi tertekan ke bawah, menciptakan segmen dari tenaga kerja Australia – pekerja kontrak dan desaigner pakaian muda yang bekerja pada batas pengangguran – hidup pada standard di bawah rata-rata nasional.